Al-Ghumaisha’ binti Milhan Ummu Sulaim (2)

Lanjutan dari Al-Ghumaisha’ binti Milhan Ummu Sulaim (1)…

Ketiga, jihadnya di jalan Allah

Muslim meriwayatkan dari Anas Rodhirayallahu ‘anhu bahwa pada perang Hunain, Ummu Sulaim membawa pisau kecil. Senjata itu bersamanya. Ketika Abu Thalhah melihatnya, maka dia mengatakan, “Wahai Rasulullah! Ini adalah Ummu Sulaim, ia membawa pisau kecil.” Mengetahui hal itu, beliau bertanya, “Untuk apa pisau kecil ini?” Ia menjawab, “Aku membawanya, jika seorang dari kaum musyrik mendekat kepadaku, maka aku robek perutnya dengannya.” Mendengar hal itu beliau tertawa. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, akan kubunuh orang-orang yang masuk Islam setelah kita dari kalangan thulaqa 1 yang melarikan diri darimu!” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Wahai Ummu Sulaim, Allah telah mencukupi dan berbuat baik.” 2

Keempat, kemuliaannya di rumahnya

Kita masih membicarakan shahabiyah mulia ini, dan kita akan mendengarkan tentang kemuliannya di rumahnya dan pengetahuannya bahwa Allah Azza Wajala akan memberi ganti kepada orang-orang yang berinfak. 3

Dalam shahiih al-Bukhari dari hadits Anas Rodiyallahu ‘anhu, ia menuturkan bahwa Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, “Aku telah mendengar suara Nabi Shalallahu ‘alahi wassalam dalam keadaan lemah yang aku ketahui beliau sedang lapar, apakah engkau mempunyai sesuatu?”  Ia menjawab, “Ya.” Lalu ia mengeluarkan sejumlah roti yang terbuat dari gandum, kemudian mengeluarkan kerudungnya, lalu membungkus roti tersebut dengan sebagiannya. Kemudian ia melilitkannya di bawah tanganku, lalu mengutusku kepada Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam. Aku pun pergi dan menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam di masjid bersama sejumlah orang. Ketika aku berada di hadapan mereka, beliau bertanya kepadaku, “Apakah Abu Thalhah mengutusmu?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Dengan membawa makanan?” Aku menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam bersabda kepada orang-orang yang bersamanya, “Berdirilah!” Beliaupun beranjak dan aku pun beranjak dari hadapan mereka hingga aku sampai kepada Abu Thalhah, lalu aku mengabarkan kepadanya. Abu Thalhah berkata, “Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam telah datang bersama sejumlah orang, sedangkan kita tidak mempunyai sesuatu untuk menjamu mereka.” Ia menjawab, “Allah dan Rasul Nya yang lebih tahu.” Lalu Abu Thalhah pergi hingga bertemu Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam datang dan Abu Thalhah menyertainya, lalu beliau berkata, “Kemarilah wahai Ummu Sulaim, apa yang engkau miliki?”  Maka ia membawa roti tersebut. Lantas Rosulullah Shalallahu ‘alahi wassalam memerintahkan untuk membukanya, dan Ummu Sulaim membuat kuah untuk menguahinya. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam mengatakan kepada makanan itu apa yang hendak dikatakannya, kemudian beliau bersabda, “Izinkanlah untuk 10 orang!” Maka makanan itu mengizinkan mereka dan makanlah mereka hingga kenyang, lalu mereka keluar. Kemudian beliau bersabda, “Izinkanlah untuk 10 orang!” Maka ia mengizinkan mereka, lalu mereka makan hingga kenyang, kemudian mereka keluar. Selanjutnya beliau mengatakan, “Izinkan untuk 10 orang!” Kemudian mereka semua makan hingga kenyang. Mereka semua berjumlah 70 atau 80 orang. 4

Inilah seorang wanita yang mengajarkan kepada kaum wanita untuk bersabar, juga kepada kaum pria, dan mengajarkan kepada kita supaya ridha dengan ketentuan Allah. Kita memohon kepada Allah, semoga para wanita bisa belajar bersabar ketika mengalami musibah yang menyedihkan agar melahirkan tokoh-tokoh seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Malik, Ahmad dan Asy-Syafi’i.

———————————————————————-

1 Ath-thulaqa’ adalah orang-orang yang masuk Islam dari penduduk Makkah pada hari penaklukkan Makkah. Mereka dinamakan demikian karena Nabi Shalallahu ‘alahi wassalam memberi kebebasan kepada mereka, dan keislaman mereka sangatlah lemah. Oleh karena itu Ummu Sulaim berkeyakinan bahwa mereka itu munafik yang berhak dibunuh karena mereka melarikan diri.

2 HR. Muslim no. 1809 kitab al-jihaad was Siyar, abu Dawud no. 3718 kitab al-Jihaad, Ahmad no. 11698.

3 Fiqhut Ta’aamul Bainaz Zaujaini, al-‘Adawi (hal. 100)

4 HR. Al-Bukhari no. 3578 kitab Al-Manaaqib, Muslim no. 2040 kitab Al-Asyribah, At-Tirmidzi no. 3630 kitab Al-Manaaqib, Ahmad no. 13135, Malik no. 1725 kitab Al-Jaami’, Ad-Darimi no.43, kitab Al-Muqaddimah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: