Jangan Berputus Asa Ketika Doa Belum Dikabulkan


Muncul aliran baru di Mojokerto, perguruaan Ilmu Kalam Santriloka, sungguh sesat dan menyesatkan. Menyatakan shalat seperti yang dilakukan umat Islam bukan perintah Allah, sehingga Gus Aan  (si pemimpin aliran) menyarankan para santrinya tidak perlu shalat. Perguruan ini menganggap sebagian isi Al-Qur’an sesat dan membahayakan persatuan, mengecam ibadah haji yang dianggap sebagai pembodohan Bangsa Arab terhadap Bangsa Indonesia, dan masih banyak lagi kesesatan lainnya. Astaghfirullah wal’ iyyaudzubillah…

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh metro TV dengan si pemimpin aliran, nyata bahwa aliran yang mengedepankan hawa nafsu ini, muncul disebabkan keputusasaan terhadap doa yang dia anggap tidak dikabulkan. Mengutip yang disampaikan, “Rakyat Indonesia sudah banyak berdoa, tetapi musibah itu tetap saja datang.”

Ga habis pikir, koq masih ada aja pengikutnya, wong jelas-jelas nyleneh. (Ya iyalah ada, orang-orang yang jauh dari Allah dan RosulNya, jauh dari Al-Qur’an dan sunnah. Yang berpikir untuk mencari kemudahan di dalam hidupnya tanpa ada usaha, mencari hal-hal yang tidak “ribet” dalam urusan syariat menurut hawa nafsu mereka). Urghh… malas membahasnya. Tidak ingin membahas lebih lanjut, tetapi lebih menekankan kepada bagaimana kita menyikapi doa yang belum dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Sumber: detik.com

***************

Sesungguhnya perkara yang paling penting yang karenanya engkau beruntung pada waktu engkau memperbanyak doa adalah hendakanya engkau merasa bahwa engkau membutuhkan kodrat (kekuasaan) Allah Subhanahu wa Ta’ala, membutuhkan ilmuNya, membutuhkan kekayaanNya, ampunan Nya dan rahmatNya.

Perasaan ini termasuk cerminan sikap penghambaan yang benar dari seoraang hamba kepada Rabbnya, dan perasaan ini dengan peranannya mengisyaratkan arti ketundukan kepada Rabb alam semesta, maka kuatlah keimananmu kepada Allah, sebagai Rabb, dan keinginanmu untuk terus maju berjalan menuju jalan Allah tidak akan lapuk.

Mungkin engkau telah banyak berdoa kepada Allah tapi tidak dikabulkan. Di sini jangan sekali-kali engkau menduga bahwa Allah tidak mampu mewujudkan doamu, jangan sampai engkau menyangka seperti itu. Sesungguhnya perbuatan itu merupakan kekufuran yang jelas terhadap sifat kodrat (kemampuan) yang dimiliki oleh Ar-Rahman. Bukankah Dia mampu untuk melakukan apa saja baik yang sudah ada maupun yang belum ada. Akan tetapi ketahuilah dan perhatikanlah dengan baik, sesungguhnya engkau telah melalaikan untuk mengambil sebab-sebab yang disyariatkan oleh Allah agar doa terkabul, sudahkah engkau memperhatikan itu?

Engkau telah melalaikan sebagian kewajiban-kewajibanNya, malas dalam melaksanakan perintah-perintahNya, bukankah begitu? Bagaimana engkau menginginkan (terkabul), sedangkan engkau tidak melaksanakannya?

Ibrahim bin Adam, ahli zuhud dan ahli ibadah memasuki pasar kota Basrah maka orang-orang berkumpul di sekelilingnya, mereka berkata kepadanya, “Wahai Ibrahim mengapa kita berdoa tapi koq tidak dikabulkan?” Dia menjawab, “Sebab hati kalian telah mati karena sepuluh perkara.”

Mereka bertanya, “Apa itu, semoga Allah merahmatimu.” Ibrahim berkata,

Kalian mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi kalian tidak mentaati Nya dengan sebenar-benarnya, kalian mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tetapi kalian tidak mengikuti sunnahnya, kalian mengetahui Al-Qur’an tetapi kalian tidak mengamalkannya, kalian memakan nikmat-nikmat Allah tetapi kalian tidak mensyukurinya, kalian mengenal syurga tetapi kalian tidak berusaha menggapainya, yakni dengan amal shalih, kalian mengetahui neraka tetapi kalian tidak lari darinya yakni dengan meninggalkan maksiat dan dosa-dosa, kalian mengenal setan tetapi kalian tidak memusuhinya bahkan kalian menyetujuinya, kalian mengenal kematian tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuknya, kalian menguburkan orang mati, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya, dan kalian bangun dari tidur kemudian menyibukkan diri dengan aib-aib orang lain dan melupakan aib-aib kalian sendiri. 1

Wahb bin Munabih meriwayatkan bahwa telah sampai kepadanya berita bahwa Nabiyullah Musa ‘Alaihissallam melewati seseorang yang sedang berdoa dan merendahkan diri, maka Musa berkata, “Ya Rabb berilah dia rahmatMu karena aku telah menyayanginya,” Maka Allah Ta’ala mewahyukan padanya, “Seandainya dia berdoa kepadaKu sehingga kekuatannya habis, maka tidak akan dikabulkan sehingga dia melihat hakKu atas dirinya.2

Oleh karena itu Ibnul Qayyim Rahimahullah mengomentari hal ini dengan berkata, “Termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi hati adalah melihat (merenungkan) hak Allah atas para hamba karena hal itu mewariskan kemarahan dan kritikan terhadap dirinya, membebaskannya dari sikap ujub dan bangga melihat amal, membuka baginya pintu ketundukan, kerendahan dan kepasrahan di hadapanNya serta membebaskan dari sikap putus asa terhadap diri sendiri, dan bahwasanya keselamatan tidak bisa diperoleh kecuali dengan maaf, ampunan dan rahmatNya. Sesungguhnya di antara haknya adalah hendaknya Dia ditaati bukan didurhakai, diingat bukan dilupakan dan disyukuri bukan dikufuri.3

Barangsiapa merenungkan hak ini yang merupakan milik Rabb nya atas dirinya, niscaya dia mengetahui dengan ilmu yaqin bahwasanya dia tidak melaksanakan hak Allah Ta’ala sebagaimana mestinya, dan tidak ada harapan lain kecuali maaf dan ampunan, dan seandainya dia kembalikan kepada amalannya niscaya dia celaka.

Apabila engkau melihat keadaan mayoritas manusia, engkau mendapati bahwa keadaan mereka berlawanan dengan hal itu, mereka melihat hak mereka atas Allah dan tidak melihat hak Allah atas mereka. Dari sini mereka terputus dengan Allah, hati mereka terhalang dari ma’rifat dan cinta kepadaNya, rindu bertemu denganNya, menikmati dzikir kepadaNya, dan ini adalah puncak kebodohan manusia terhadap  Rabb nya dan dirinya sendiri.

Muhasabah nafs (koreksi diri) maksudnya adalah hendaknya seorang hamba melihak hak Allah atas dirinya, lalu merenungkan apakah dia sudah melaksanakannya sebagaimana mestinya. Sebaik-baik pemikiran adalah memikirkan tentang hal itu sebab ia bisa mengantarkan hati kepada Allah dan meletakkan dirinya di hadapanNya dengan rendah diri, tunduk, pasrah dengan kepasrahan bulat, merasa membutuhkan dengan kebutuhan terhadap kekayaanNya, dan rendah diri terhadap kemulianNya.

Sebelum engkau berkata, “Sungguh aku telah banyak berdoa kepada Allah dan dia belum menjawab doaku.”, sucikanlah dirimu dari dosa-dosa, dan kenalilah hak-hak Sang Penciptamu atas dirimu.

Bisa jadi engkau adalah orang yang shalihah, bertakwa, ahli ibadah, tapi Allah belum menjawab doamu, hal itu bukan karena kelalaian yang terdapat pada dirimu, akan tetapi karena kehendak Allah untuk menyimpan pahala doamu dalam bentuk kebaikan pada hari kiamat.

Doa  berguna bagi seorang muslim, baik doa itu dijawab atau tidak, karena apabila Allah tidak mengabulkan keinginanmu di dunia, maka hal itu karena hikmah yang agung yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.

Akan tetapi, engkau tetap mendapatkan pahala dan ganjaran di akhiratmu, dan seorang mukmin jauh lebih menjaga kepentingan akhiratnya daripada kepentingan dunianya.

Sumber:  Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid dalam Bingkisan Istimewa bagi Muslimah, Darul Haq.

________________________________

1.Hiyatul Auliya 8/ 15-16 karya Abu Nuaim Al-Asbahani

2.Az-Zuhud hal:85 karya Ahmad bin Hambal, dan Al-Hiyah 6/ 55

3. Ighatsatul Lahfan 1/97 karya Ibnul Qayyim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: