The Miracle of ASI (Bagian 2: Kandungan ASI)


Di dalam ASI (Air Susu Ibu) terkandung begitu banyak zat dan nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi, antara lain:

  • Energi. Di dalam ASI terdapat protein, karbohidrat, dan lipid (lemak) yang dapat diubah menjadi energi.
  • Karbohidrat. ASI mengandung lebih banyak laktosa (gula susu). Laktosa merupakan zat yang diperlukan bagi manusia sebagai sumber energi.
  • Protein. Kualitas dan kuantitas dari asupan protein adalah dua hal yang sama-sama penting, sebab protein merupakan sumber energi. Kegagalan pembentukan energi yang diperlukan dapat menurunkan efisiensi penggunaan protein untuk tumbuh kembang jaringan sehingga menghambat maturitas bayi yang baru lahir. Kekurangan protein dalam jangka lama dapat berefek buruk pada pertumbuhan dan perkembangan neuron/ saraf. Dalam ASI matur, konsentrasi protein dapat mencapai 8-10 g/l. Konsentrasi protein ini selalu berubah setiap tahap laktasi. Pada 2 minggu postpartum, saat kolostrum digantikan oleh ASI matur, konsentrasi protein naik hingga 12,7 g/l. Namun, pada bulan ke-2 konsentrasi protein dalam ASI ini turun hingga 9 g/l, pada bulan ke-4 hingga 8 g/l, dan akan selalu turun hingga masa penyapihan. Di dalam ASI juga terdapat tirosin (asam amino nonesensial) dan fenilalanin (asam amino aromatik esensial) dalam konsentrasi yang sangat rendah Karena jika konsentrasi kedua zat ini tinggi maka akan membahayakan bagi bayi. Selain itu juga terdapat taurin. Taurin merupakan salah satu asam amino yang penting untuk pertumbuhan otak dan konsentrasinya dalam ASI tinggi. Berbeda dengan sistin yang dikonversi dari metionin. Sistin juga penting untuk pertumbuhan otak. Namun konsentrasi sistin dalam ASI rendah karena bayi tidak dapat mengkonversi metionin ke dalam sistin. Hal ini disebabkan karena sistem enzim yang belum matur. Kekurangan protein dapat berefek buruk pada bayi. Defisiensi protein dapat menggangu respon imun sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi pada bayi. Selain itu juga dapat menggangu perkembangan kognitif dan intelegensi. Kebutuhan protein bayi usia 3-6 bulan rata-rata 1,1 g/kgbb/hari. Protein yang disediakan oleh ASI dapat memenuhi kebutuhan protein bayi hingga tahun kedua kehidupan. Sedangkan, protein dan asam amino bentuk lain dapat memenuhi kebutuhan bayi hingga empat bulan pertama kehidupan.
  • Lemak. Di dalam ASI terdapat lemak yang paling cocok untuk bayi dalam jumlah yang tepat. Konsentrasi kolesterol dalam ASI cukup tinggi yaitu 0,16 g/l. Berbeda dengan orang dewasa yang harus mengurangi asupan makanan tinggi kolesterol, bagi bayi kolesterol merupakan bahan yang penting untuk pertumbuhan otak bayi. Selain itu asam lemak esensial juga ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi yaitu 10,6%. Kehadiran garam empedu yang bergantung lipase dalam ASI menyebabkan lemak lebih mudah untuk diabsorpsi. Long-chain polyunsaturated fatty acids yang terkandung dalam lemak ASI ini penting untuk pertumbuhan otak bayi.
  • Vitamin. ASI mengandung vitamin yang cukup bagi bayi. Bayi selama 6 bulan tidak memerlukan vitamin tambahan.
  • Vitamin A. Vitamin A adalah bentuk umum dari grup retinoid dengan aktivitas biologik yang mirip. Bentuk lainnya seperti retinal, retinol, asam retinoid, dan substansi yang dapat menjadi pro-vitamin A karena pro-vitamin A dibentuk dari retinol. ASI matur menyediakan 1,7 mol/l vitamin A. Bayi usia 0-6 bulan disarankan mengonsumsi vitamin 1,4 µmol/hari dan  1,75 µmol/hari bagi bayi berusia 6-12 bulan. Kekurangan asupan vitamin A baik dari ASI maupun dari luar dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, gejala okular (xeroftalmia), dan meningktakan risiko kesakitan serta kematian akibat infeksi pada bayi .
  • Vitamin D. Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang disintesis dalam kulit dan didapatkan dari diet. Vitamin D mempunyai 2 bentuk yaitu vitamin D2 (ergokalsiferol) dan vitamin D3 (cholecalciferol). Fungsi vitamin D berkaitan dengan metabolisme kalsium dan fosfat. Di dalam ASI konsentrasi vitamin D sangat rendah dan bergantung pada status vitamin D ibu. Vitamin D pada bayi dapat diperoleh dengan memberikan paparan matahari pada bayi. Defisiensi vitamin D dapat menyebabkan ricketsia, gangguan pertumbuhan, dan gangguan mineralisasi tulang.
  • Vitamin B6. Vitamin B6 merupakan koenzim dalam metabolisme protein, karbohidrat, dan lemak. ASI telah menyediakan kebutuhan normal vitamin B6 selama 6 bulan awal kehidupan. Defisiensi vitamin ini dapat menyebabkan dermatitis, anemia mikrositik, depresi, kebingungan dan gangguan pertumbuhan serta perkembangan neurologik.
  • Kalsium. Di dalam ASI mengandung kalsium dengan konsentrasi 250-300 mg/l yang tidak berubah selama laktasi dan tidak dipengaruhi oleh diet ibu. Konsentrasi kalsium yang seperti ini sesuai untuk mineralisasi tulang.
  • Besi. Konsentrasi besi berkisar antara 0,4-0,8 mg/l di dalam kolostrum dan 0,2-0,4 mg/l di dalam ASI matur. Homeostasis besi diatur dengan up dan down-regulation dari reseptor dalam glandula mamae sehingga konsentrasi besi dalam ASI tidak dipengaruhi oleh status atau diet besi ibu. Selain itu besi yang terkandung dalam ASI lebih mudah diabsorpsi. Besi yang dikandung ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Tidak terlalu banyak besi yang dikandung dalam ASI, tetapi besi ini diserap usus bayi dengan baik. Bayi yang disusui tidak akan menderita anemia kekurangan zat besi.
  • Zink. Konsentrasi zink dalam ASI berkisar 4-5 mg/l di dalam ASI yang keluar lebih awal, 1-2 mg/l pada 3 bulan postpartum, dan hingga 0,5 mg/l pada 6 bulan postpartum. Konsentrasi ini tidak dipengaruhi oleh suplementasi zink ibu. Zink dalam ASI ditemukan dalam bentuk zinc-binding molecule, picolinic acid, sehingga lebih mudah diabsorpsi.
  • Enzim. ASI mengandung enzim khusus (lipase) yang berfungsi untuk mencerna lemak. Hal ini menyebabkan ASI lebih cepat dan mudah dicerna serta bayi yang diberi ASI mungkin ingin makan lagi lebih cepat.
  • Fosfor. Di dalam ASI terkandung fosfor dalam jumlah yang tepat sehingga sesuai untuk mineralisasi tulang.
  • Natrium. Konsentrasi natrium dalam ASI rendah. Hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bayi dari dehidrasi dan hipernatremia.
  • Lactobacillus bifidus. Lactobacillus bifidus cepat tumbuh dan berkembang biak dalam saluran pencernaan bayi yang mendapat ASI karena ASI mengandung polisakarida yang berikatan dengan nitrogen, yang tidak terdapat dalam susu formula. Kuman ini akan mengubah laktosa yang banyak terdapat dalam ASI menjadi asam laktat dan asam asetat serta situasi yang asam pada usus ini akan menghambat pertumbuhan E.coli (jenis kuman yang paling sering menyebabkan diare pada bayi) dan bakteri patogen lainnya.
  • Anti-Stafilokok. Anti-Stafilokok ini dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus sp.
  • Komplemen C3 dan C4. Walaupun terdapat dalam jumlah kecil di dalam ASI, ia mempunyai daya opsonik, kemotaktil, dan anagilatoksik. Komplemen ini diaktifkan oleh IgA dan IgE yang ada dalam ASI .
  • Imunitas humoral. Secara elektroforetik, kromatografik, dan radio immuno assay telah terbukti bahwa ASI terutama kolostrum mengandung secretory imunogobulin A (SIgA). Pada ASI matur konsentrasi SIgA menurun. SIgA ini tahan terhadap enzim proteolitik dalam saluran cerna dan direabsorpsi sesuai dengan kebutuhan serta membentuk lapisan di permukaan mukosa usus sehingga mencegah bakteri patogen dan enterovirus untuk masuk. Bakteri patogen yang dapat dicegah antara lain E.coli, Shigella, Salmonella, dan Vibrio cholerae. Sedangkan virus yang dapat dicegah yaitu rota virus(agen penyebab diare), polio virus, Coxsackie, enterovirus, Influenza A, dan virus respirasi. Hal ini akan membantu melindungi bayi sampai bayi bisa membuat antibodinya sendiri.
  • Imunitas selular. ASI mengandung sel. 90% sel dalam ASI terdiri dari makrofag. Fungsi makrofag adalah membunuh dan memfagositosis makroorganisme, membentuk C3 dan C4, serta lisozim dan laktoferin. 10% lagi terdiri dari limfosit T dan B. Sumber lain menjelaskan bahwa di dalam ASI terdapat neutrofil dan interferon. Interferon ini berfungsi untuk menginhibisi aktivitas beberapa virus tertentu.
  • Lisozym. Lisozym berfungsi untuk menghancurkan sel dinding bakteri (bakteriolitik) .
  • Laktoperoksidase. Laktoperoksidase berfungsi untuk membunuh Streptococcus sp.
  • Leukosit. Apabila ibu terinfeksi maka leukosit dalam tubuh ibu membuat perlindungan terhadap ibu. Sebagian dari leukosit tersebut menuju payudara dan membentuk antibodi. Antibodi yang terbentuk ini keluar melalui ASI sehingga melindungi bayi. Leukosit membantu memerangi infeksi dengan berfungsi sebagai fagositosis, mengahsilkan SIgA, C3, C4, dan laktoferin.
  • Laktoferin. Laktoferin  merupakan protein yang dapat mengikat besi. Hal ini mencegah pertumbuhan beberapa bakteri berbahaya yang memerlukan besi dalam hidupnya. Sehingga laktoferin berfungsi untuk membunuh kuman (bakteriostatik) dengan jalan merubah ion zat besi (Fe). Bakteri yang dapat distasiskan oleh laktoferin antar lain E.coli, Streptocccus mutant, dan Staphylococcus aureus.
  • Air.  Asi mengandung cukup air bagi bayi bahkan pada iklim yang panas.
  • Epidermal Growth Factor (EGF). EGF merupakan komponenen terbanyak dari factor pertumbuhan yang terdapat dalam ASI. EGF ini mempunyai efek terhadap proliferasi dan diferensiasi dari epitel sel usus.

Subhanallah…tunggu apa lagi! Ayo…semangat buat menyusui ya🙂 (buat ibu-ibu, jangan malas  atau malu ya…berusaha untuk bisa menyusui anak minimal 6 bulan dengan ASI eksklusif).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: