Gosip, digosok makin siiip…


Alangkah bagusnya apa yang diungkapkan oleh Umar bin Khattab Rhadiyallahu ‘anh:

Ucapan itu hanya empat, selain itu hanyalah ucapan sampah belaka. Membaca Al-Qur’an, membaca hadits, mengucapkan kata-kata bijak para ulama, dan membicarakan urusan dunia yang diperlukan.”

Pada setuju kan kalau di setiap stasiun televisi kita, terutama stasiun TV swasta, dijamin pasti ada acara infotainment alias gosip, digosok makin siiip…Acara itu makin menjamur dan ga’ pernah absen sehari pun tanpa acara tadi. Jangankan absen sehari, wong jadwalnya aja sehari bisa lebih dari 3 kali. Wow…melebihi jadwal makan or jadwal minum obat niy! Ehmm, berusaha merebut perhatian penonton terutama ibu-ibu dan mungkin juga para remaja putri, serta memanjakan penglihatan dan pendengaran mereka dengan aib orang lain (baca: artis). Na’udzubillah…

Gosip, identik dengan kabar burung. Kembalinya cuma kepada dua hal :

  1. Bila benar-benar terjadi, berarti menyebarkan aib
  2. Bila hanya berita bohong, berarti menyebarkan fitnah dan kebohongan

Kedua-duanya sama-sama haram. Gosip termasuk dalam ghibah. Ghibah artinya menggunjing atau ngomongin aib orang lain.  Ghibah dalam Islam jelas perbuatan haram. Mengenai keharamannya sudah disepakati para ulama sepanjang jaman. Ghibah adalah salah satu dari bahaya lidah.

Manusia akan dicampakkan ke dalam Jahannam dalam keadaan terbalik, akibat perbuatan lidah mereka.” (HR. At-Tirmidzi)

Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. “(Al- Hujurat: 12)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

Setiap muslim harus dipelihara darah, harta dan kehormatannya oleh muslim lainnya.” (HR. Muslim)

Ghibah adalah menyebutkan pada diri orang lain sesuatu yang tidak disenanginya.” (HR. Muslim)”

Barangsiapa yang menampik berita tentang aib saudaranya sesama muslim tanpa setahu sahabatnya itu, pasti akan Allah singkirkan aibnya di hari kiamat nanti.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Lalu kapan ghibah dperbolehkan??? Pertanyaan ini perlu dilontarkan karena ghibah pada dasarnya haram, namun pada kondisi-kondisi tertentu, bisa saja syariat memberi keringanan untuk  boleh berghibah. Akan tetapi, tidak semua ulama sependapat tentang pembolehan berghibah pada semua kondisi tersebut. Sebagai bahan kajian, kita sebutkan kondisi-kondisi tersebut:

  • Ketika didzalimi orang lain. Artinya, orang yang didzalimi berhak mengadukan kedzaliman yang dilakukan orang lain terhadapanya, kepada orang yang berkuasa atau hakim agar diproses menurut hukum syariat.
  • Meminta pertolongan kepada orang lain, untuk menghilangkan kemungkaran. Artinya menceritakan aib atau kejahatan kepada orang yang mampu memberikan peringatan kepadanya, atau mencegah orang itu melakukan kejahatannya.
  • Dalam rangka meminta fatwa. Misalnya dikatakan, “Si Fulan berbuat begini, bagaimana hukumnya?” namun demikian, bila mungkin tidak disebutkan nama pelakunya, itu lebih baik.
  • Dalam rangka memberikan peringatan kepada kaum muslimin terhadap bahaya kejahatan, kefasikan atau kekufuran seseorang. Bukankah kita sering mendengar sebagian perawi hadist yang diceritakan aibnya? Tentunya agar hadits nabi terpelihara dari pemalsuan. Hal serupa juga dilakukan sebagian ulama ketika mereka mengkritik berbagai buku yang mengandung penyimpangan yang sudah tersebar di masyarakat.
  • Menceritakan aib orang yang memang sengaja menampakkan dan mempertontonkan kemaksiyatannya. Dalam Islam, orang seperti itu disebut mujahir (tukang mempertontonkan maksiyat).
  • Apabila terpaksa menyebut gelar orang yang memang hanya dikenal dengan nama itu. Seperti si pendek, si buta dan lain-lain.

Yang selamat??? Ya ati-ati aza dech!!! Yang perlu kita perhatikan, bahwa kondisi-kondisi itu tidak boleh dipaksa-paksain. Mislanya dengan alasan didzalimi, kita mengekspos aib orang yang mendzalimi kita ke mana-mana. Kita beritahukan kepada sembarang orang yang terkadang, bahkan sering banget, hanya seneng “ndengerin” cerita kita saja. Aib yang kita ceritakan juga banyak yang tidak berkaitan dengan perbuatan dzalim yang dilakukan orang itu kepada kita. Ini jelas perbuatan culas alias curang!! Atau dengan alasan meminta tolong menghilangkan kemungkarannya. Kadang dengan alsan meminta fatwa, aib orang banyak kita sebarkan secara bebas dalam satu pertemuan, tanpa membawa faidah atau perbaikan.

Memanggil seseorang dengan yang hanya dikenal dengan nama cacatnya, seperti si pincang dan lain-lain, juga harus dibatasi sebisa mungkin. Bila kita mengetahui nama yang sebenarnya, kita justru berkewajiban mempopulerkan nama yang sesungguhnya, agar gelar buruk itu tidak lagi menjadi panggilannya. Kalaupun terpaksa, kita hanya dibolehkan memanggilnya dengan gelar buruk itu, apabila tidak disertai ejekan atau konotasi meremehkan.

Sudah seharusnya kita memelihara lidah kita dari segala yang haram. Budaya nyebarin gosip, ngerumpi dan sejenisnya, harus kita buang jauh-jauh, Untuk itu, kita juga harus pandai-pandai mencari berbagai aktivitas yang baik sebagai pengisi waktu kita, agara tidak terbuang sia-sia untuk perkara yang tidak berguna, apalagi yang mendatangkan dosa.

Wallahu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: