Cici…..


Sebagian akhwat menganggap tugas wanita lebih sebagai manager di rumahnya, tanpa perlu dipusingkan urusan dapur dan merawat anak, yang lebih pantas dilakukan oleh para bawahan, alias pembokat or baby sitter (apalagi di negeri Jiran, niy kata suami, “Bener ya Mas?”  Suami istri sama-sama sibuk berkarir, urusan rumah diserahkan ke pembantu. Makanya TKW alias Tenaga Kerja Wanita laku keras di malaysia, hehe…). Peran sosial dan aktualisasi diri menjadi lebih utama. Di satu sisi, tidak sedikit akhwat yang tetap teguh dan bangga dengan kesibukan seputar urusan dapur ini (saya salah satunya yang pengen seperti itu dan mudah-mudahan bisa nantinya. Aamiin). Mereka cukup puas dengan imbalan surga untuk jerih payahnya membenamkan muka diasap ’sauna’ mazola (baca: minyak goreng) dan berparfumkan aroma popok bayi.

Saya sich bukannya mo membahas kekurangan ama kelebihan kedua sisi ini. Karena sebenarnya saya pun berada di tengah posisi tersebut, tetap bekerja tapi berusaha menjadikan keluarga sebagai prioritas utama (baca: suami dan anak-anak), insya Allah. Karena bekerja bukan untuk mengejar karir, hanya ingin mengaplikasikan ilmu yang dah didapat, bisa bermanfaat buat orang lain juga, kan semuanya diniatkan untuk ibadah dan menggapai ridho Alloh. Oleh karena itu, cari pekerjaan yang fleksibel, tidak menyita waktu dan tidak mengurangi peran sebagai istri dan ibu.

Saya rasa udah banyak ulama dan ustadz yang memberikan arahan. Saya sich cuman pengen bertutur tentang kisah nyata seorang wanita, dikirim via email oleh teman saya sekitar 4 tahun yang lalu.

Begini ceritanya…

Sebut saja Cici namanya. Subhanallah, anaknya pinter banget and poenya idealisme yang tinggi seperti akhwat teknik yang saya kenal.

Sejak awal, sikap ama konsep dirinya sudah jelas, to be the best, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Dia kemudian menerima beasiswa untuk memperdalam ilmu hukum dan perundangan internasional di negeri kincir angin, terkenal dengan bunga tulipnya, pernah menjajah indonesia, punya tim sepakbola yang cukup mumpuni, negara apa hayo?? Udah jodoh kali yee, si Cici dapet pendamping yang ‘setara’ dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski beda profesi.

Setelah beberapa tahun married, Alhamdulillah mereka di karunia seorang penerus. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Cici baru aja diangkat sebagai staf diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Cici meraih gelar PhD (wuihh asyik tuch gelarnya..). Katanya sich nama anaknya diambil dari huruf pertama hijaiyah ‘alif’ dan huruf terakhir ‘ya’, jadilah nama yang enak didengar, Alifya (boleh kok namanya di contoh..he..he).

Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Cici makin menggila saja. Dia harus bolak balik terbang dari satu kota ke kota lain , dari satu negara ke negara laen..kaya’ presiden indonesia aja..hehe…

waktu di tanya, ‘tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?’. Dengan sigap si Cici menjawab: “Don’t worry, gue udah nyiapin segala sesuatunya. Everything is ok.” Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan.

Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek dan neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu bapaknya ‘besok kalau Alif sudah besar, contoh dong bapak ama ibu’. Begitu selalu nenek Alif, ibunya Cici bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Ndak salah memang. Siapa yang ndak pengen punya anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya?

Ketika Alif berusia 3 tahun, si Alif mengajukan proposal buat dibelikan eh pokoknya minta adik dech, buat temen maen, katanya. Terus, dengan penuh kasih sayang Cici ama suaminya menjelaskan bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini dapat ‘memahami’ orang tuanya. Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut ia
jarang sekali ngambek. Alif selalu menyambut ibunya dengan penuh kebahagiaan.

Cici bahkan menyebutnya ‘malaikat kecil’. Sungguh keluarga yang bahagia bukan?? Meski bokap nyokapnya sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Pengen dech poenya anak kaya’ Alif, do’ain yach.

Suatu hari, ketika Cici mo berangkat ke kantor entah kenapa Alif menolak dimandikan baby sitternya.  ‘Alif ingin bunda mandikan!’, ujarnya. Karuan saja Cici yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya ikut membujuk agar Alif mau mandi dengan Mbok Siti, baby sitternya. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan, ‘Bunda mandikan Alif’, begitu setiap pagi. Cici ama suaminya berfikir mungkin Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah, jadinya agak minta perhatian.

Suatu sore Alif tiba tiba demam dan kejang-kejang, udah dech, Mbok Siti langsung bawa si Alif ke Emergency Room (kaya’ serial Indosiar yach). But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya. Cici, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya shock berat.

Setibanya di rumah, satu-satunya keinginannya adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ‘Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif’. Ucapnya lirih meski teramat pedih. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, Cici masih berdiri mematung. Berkali-kali Cici berkata, ‘Ini sudah takdir, iya kan? Aku disebelahnya ataupun di seberang lautan kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan?’. ‘Ini konsekuensi dari sebuah pilihan’, lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat.

Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Cici tertunduk. ‘Aku ibunya !’ serunya, kemudian, ‘Bangunlah lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan sekali lagi saja,Lif.’ Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-ngais tanah merah.

Terlalu ekstrem mungkin kisahnya sebagai bahan perenungan. Tapi belajar dari itu, ayo prepare yourself to be a good wife and mother …biar dapat surga, biar semua keluarga kita bisa sama-sama ke surga. Aamiin.

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran 104-105)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: