Insiden Memalukan Saat Lomba Gerak Jalan


Hari ini, saat hendak ke kampus naik motor kesayangan (ngaku-ngaku, padahal punya ayah, tapi karena kemana-mana selalu menemani dah seperti milik sendiri…), kulihat barisan anak-anak berbaju seragam putih merah, yup…barisan anak SD sedang latihan gerak jalan. Maklum, menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, so bakal banyak lomba diadakan, salah satunya lomba gerak jalan SD se-kabupaten. Kebetulan rumahku dekat dengan SD dan ternyata menjadi salah satu rute latihan mereka. Tiba-tiba saja jadi teringat kisah saat aku kecil dulu.

Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 5 SD. Menjelang 17-an (begitu kami sering menyebut hari prklamasi), sekolahku mulai mencari murid-murid yang hendak diikutkan lomba gerak jalan. Maka dicarilah murid dengan tinggi yang hampir sama supaya barisan tampak seragam (dalam hal tingginya lho, jd biar ndak njomplang gtu loh, ada yang pendek dan ada yang tinggi). Mengingat tinggiku waktu itu termasuk “cukup” tinggi, maka aku terpilih menjadi salah satu anggota tim gerak jalan putri SDN Jember Lor I. Kemudian tiap sore diadakan latihan. Karena seringnya latihan kali ye (or saking semangatnya, hehe), ujung sepatuku pun meminta makan alias mangap bin rusak dan dah waktunya diganti. Kemudian sehari sebelum lomba, ayah dan ibu membelikanku sepatu baru, Alhamdulillah…

Hari H pun tiba…Lomba gerak jalan SD se-kabupaten Jember dengan rute dimulai dari Alun alun – jalan Diponegoro – jalan Gajah Mada – jalan Imam Bonjol – kembali ke Alun alun lagi, segera dimulai. Tibalah giliran barisanku yang mulai melangkah mengikuti rute yang telah ditentukan tadi. Dengan semangat ’45, ga mau kalah dengan para pendahulunya (baca: pahlawan), maka aku pun melangkah, ”Maju….jalan…!” Sampai di jalan Diponegoro, tiba-tiba ujung belakang salah satu sepatuku terinjak oleh teman yang ada tepat di belakangku, secara sepatu tadi baru dan kebesaran…Sekali dua kali terinjak, sepatuku hampir lepas (dalam hati agak sebel juga diinjek mulu). Pada injakan ketiga, kontan aja sepatu tadi lepas dan mulai tertinggal barisan. Terpikir di benakku, kalau sepatu tadi ga diambil, mosok se iya aku gerak jalan hanya menggunakan satu sepatu, padahal rute masih cukup jauh harus dilalui untuk sampai finish, belum lagi panasnya aspal yang menyentuh telapak kaki, meskipun aku memakai kaos kaki, lagian eman nuemen rek sepatu anyar. Di lain pihak kalau diambil, maka akan merusak barisan dan mungkin bisa mengurangi nilai kami. Tanpa pikir panjang lagi, maka aku putuskan keluar barisan untuk mengambil sepatu tadi. Duh…malunya diriku dilihat banyak orang di tepi jalan yang lagi pada nonton lomba tersebut (ke ge-er an niy yee…). Yah…bisa ditebak lah, sekolahku ga jadi juaranya. Entah murni karena ulah Si Desie kecil tadi sangat mengurangi penilaian ataukah mungkin ulah Desie kecil tadi hanyalah satu dari banyak alasan lain sekolahku ga jadi pemenangnya atau bahkan mungkin saat insiden ini terjadi, tidak ada juri yang standby di tempat itu sehingga aku terbebas dari rasa bersalah, hopefully I was not  the reason. Tapi sesaat setelah kejadian itu, teman yang nginjek sepatu tadi dah meminta maaf karena beberapa kali telah menginjak sepatuku, dan akhirnya berbuah insiden lucu (buat teman yang lain mungkin dianggap sebagai kejadian yang menyebalkan). Secara sepatu baru, mungkin sepatu temenku ingin berkenalan, so…beberapa kali harus disentuh dan diinjek😛. Ehmm…kenangan yang menggelikan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: