Potret Fakultas Kedokteran di Negeri Kita


Dahulu hingga sekarang, jika kita bertanya pada anak-anak, “Dik, cita-citanya mau jadi apa kalau sudah besar?”. Banyak yang akan menjawab, “Mau jadi dokter!”, tidak hanya pada anak-anak perempuan saja lho… Dahulu, seringkali itu hanya cita-cita masa kecil yang akan berubah saat anak besar dan tumbuh menjadi remaja yang sedang mencari jati diri, mungkin disebabkan sulitnya dan ketatnya persaingan untuk masuk ke fakultas kedokteran yang pada saat itu masih sangat terbatas jumlahnya. Sekarang…? sepertinya sudah mulai terjadi pergeseran, tidak hanya cita-cita masa kecil, tapi kemudian terus menjadi cita-cita saat remaja nanti, bahkan menjadi cita-cita orang tua. Sayangnya…akhir-akhir ini saat sebuah perguruan tinggi negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), adanya pro-kontra UU BHP yang akan disahkan, maka universitas membuka program-program baru penerimaan mahasiswa melalui jalur-jalur khusus, yang bertujuan untuk menggali dana sebanyak mungkin. Syarat-syarat untuk masuk universitas negeri, khususnya fakultas kedokteran menjadi sangat longgar asalkan ada uang (modal besar), apalagi di perguruan tinggi swasta.

Untuk meningkatkan pendapatan universitas, mulai dibukalah banyak fakultas kedokteran di universitas swasta. Yang bisa kita lihat sendiri saat ini betapa menjamurnya fakultas kedokteran swasta. Akses untuk membuka fakultas kedokteran baru sepertinya sangat mudah, mungkin salah satu alasannya untuk meningkatkan jumah dokter yang dirasa kurang di daerah terutama daerah luar Jawa. Sayangnya…kuantitas yang tinggi tidak diikuti dengan kualitas yang bagus juga. Padahal kalau mau ditelusuri, bukan jumlah dokter yang kurang, tapi distribusinya yang memang tidak merata, sehingga lebih berpusat di kota-kota besar, terutama di pulau Jawa. Apalagi dengan dihapuskannya kewajiban PTT untuk lulusan dokter umum yang baru, maka akan lebih banyak dokter yang memilih untuk tinggal di kota besar di Jawa.

Sebenarnya pemerintah sudah mencoba menawarkan PTT dengan “iming-iming” mendapat gaji dan insentif yang cukup besar, terutama untuk daerah yang sangat terpencil. Tapi, tetap saja masalah distribusi belum sepenuhnya terpenuhi. Apalagi PTT hanya sebentar dan digunakan sebagai wadah untuk mencari modal untuk sekolah spesialis yang mahal, meskipun tidak sedikit juga yang dengan idealismenya yang tinggi ingin mengaplikasikan ilmunya, mencari pengalaman, membangun daerah terpencil dari segi kesehatannya, sekaligus sambil mengumpulkan uang (karena tentu saja yang terakhir ini tidak bisa dilepaskan begitu saja).

Dengan dibukanya fakultas kedokteran swasta yang semakin banyak, masalah kualitas juga perlu dipertanyakan. Bukan ingin mendeskriditkan swasta dibanding negeri, karena negeri pun, juga tidak sepenuhnya berkualitas jika sistem penerimaan mahasiswanya tidak lagi mengutamakan kualitas calon mahasiswa baru tapi lebih mengutamakan “uang”, siapa yang bisa lebih besar memberi “sumbangan” maka akan semakin besar kesempatan untuk diterima. Wah…ujung-ujungnya duit juga, lalu jika ada mahasiswa yang berkualitas (baca pandai), akan tetapi berasal dari keluarga yang kurang mampu…sepertinya akan segera mundur dari persaingan karena kekhawatiran akan biaya yang sangat besar yang harus dikeluarkan, “Padahal ini baru masuk, apalagi nanti-nantinya saat kuliah, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan,” pikir mereka. Oh…mahalnya kuliah…

“Daya tarik fakultas kedokteran ini terlihat juga dari banyaknya mahasiswa yang sudah diterima di fakultas lain, kemudian ikut SNMPTN lagi (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dengan pilihan pertama fakultas kedokteran.” Terbukti saat saya menjadi pengawas SNMPTN 1-2 Juli 2009 kemarin.

FK…Fakultas Kedokteran, bukan fakultas keturunan. Memang banyak dokter, bahkan hampir semua mungkin, yang ingin agar anaknya juga menjadi dokter, tapi kadang tidak diikuti dengan kemampuan yang memadai. Kadang diikuti kemampuan memadai, tetapi dari si anak sendiri tidak ingin menjadi dokter, hanya karena kemauan orang tuanya saja. Jadi bisa saja anak berkualitas tapi bukan atas kemauannya sendiri, sehingga tidak serius saat kuliah, hasilnya juga pasti kurang maksimal.

Fakta lainnya, saat ini profesi dokter menjadi sebuah impian bagi orang tua segala profesi tidak hanya dokter, juga para lulusan SMU, mungkin karena segi “prestise” di masyarakat dan dipandang sebagai profesi yang mulia, padahal kalau dari segi penghasilan kadang tidak jauh berbeda dengan profesi lain. Jadi, sebenarnya kalau mau kaya jangan jadi dokter.

Akhirnya…dengan banyaknya fakultas kedokteran swasta, menjadi alternatif buat orang tua untuk menggapai impiannya tadi. Semua fasilitas disediakan untuk si anak tadi. Bayangkan…nyatanya bahkan ada yang mau “memberikan” sebuah bus untuk fakultas, “sumbangan” 150 juta ke atas hingga 500 jt bahkan 1 miliar ditawarkan agar anaknya bisa diterima di fakultas kedokteran. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa untuk menjadi dokter saat ini, membutuhkan biaya yang sangat besar. Khawatirnya…jika kemudian ada anggapan “harus balik modal” yang kemudian menghalalkan segala cara setelah menjadi dokter nanti. Mudah-mudahan itu tidak terjadi!

Harapannya (berharap boleh dong…), saat menyeleksi seseorang mampu atau tidak masuk fakultas kedokteran, bukan dari segi “modalnya” atau “sumbangannya” tapi lihatlah KUALITAS calon mahasiswa tadi. Karena bagaimanapun juga, input yang bagus, proses belajar, kuliah, kurikulum yang bagus, insya Alloh akan menghasilkan output yang berkualitas pula, baik dari segi ilmunya, sikap dan moralnya (IQ, EQ dan SQ yang seimbang). Berharap juga, akan semakin sedikit timbulnya “mal praktik”, yang bisa terjadi karena lulusan dokter kurang berkualitas, juga makin gencarnya para pengacara yang  “sangat jeli” melihat tindakan dokter-dokter kita saat ini dan juga karena konsumen (dalam hal ini pasien) semakin kritis, semakin banyak tahu karena bisa mendapatkan informasi dari berbagai media yang tersedia di sekitar mereka, dan mungkin masih banyak faktor lainnya. Jadi, mari kita berusaha untuk memperjuangkan pendidikan kedokteran yang berkualitas. Salam sejawat buat dokter-dokter seluruh Indonesia !!!

(Cerita ini ditulis, murni atas pendapat saya pribadi, didasarkan pengalaman dan fakta di sekitar kita, dilatarbelakangi keprihatinan atas sistem penerimaan mahasiswa kedokteran di beberapa universitas di Indonesia yang kurang memperhatikan mutu calon mahasiswa dan keinginan atau harapan agar suatu saat nanti ini bisa berubah menjadi sistem yang lebih baik, menghasilkan mutu lulusan dokter yang berkualitas, melalui seleksi yang ketat (baik dan benar) dan kurikulum yang terus berkembang untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Pasien bukanlah obyek, tetapi subyek yang harus diperlakukan sebagai manusia seutuhnya (teringat kuliah “Emphaty & Patient Care” dulu…🙂.

6 Responses

  1. saya mau tanya kalo kulah di kedokteran yang bikin mahalnya itu apaselain biaya masuknya?trims

    • Ada bbrp universitas yg mahasiswax msh dikenakan biaya saat Koas, mgkn jg praktikum, yg jmlhx lumayan (tp tdk sbesar biaya masuk tentunya, yg dari puluhan hingga ratusan juta), lalu text book nya yg banyak & hrganya jg “lmyn”, meskipun sdh tersedia e-bookx atau bs pinjem di perpus atau pinjem di kakak tingkat (pinter2x aja cari yg gratisan^^), lalu alat2 kedokteranx (tp msh jauh lbh murah dibandingkan alat2 mhsw FKG).
      Tp kl dh dtrima, insya Allah kan tersedia beasiswa jg, keringanan2, bahkan tidak sedikit tmn, adik kelas yg memberi les privat u/ mdptkn biaya tambahan. Jd, dimana ada kemauan insya Allah ada jalan.
      Jd inget kt rektor sy dulu, “tidak akan ada mahasiswa di DO hanya karena tdk mampu membayar uang kuliah”

  2. pengen nyari beasiswa untuk koas, ada info gak umm?🙂

    • Kl di UNDIP pas koas masih ditarik biaya lg ya? Sepengetahuan sy, untuk FK dari universitas yg sdh lama berdiri, biasanya udah ga ditarik biaya lg, jd cukup dgn membayar SPP tiap semester sj. Dan kalaupun mo cari beasiswa, biasanya dr FK atau universitas yg bersangkutan bnyk tersedia, jg kl di tempat sy dulu ada orang tua asuh jg, yg tidak lain adalah alumni FK tsb. Jd, saran sy coba srg tanya ke bagian TU nya untuk mendapatkan informasi mengenai beasiswa yg tersedia. Good luck! ^^

  3. mau tanyaa . .FK kedokteran di luar jawa yg kualitasnya bagus mana aja??makassih

    • Coba cari rankingnya aja (ada ga ya…hehe), stidaknya lht universitasnya dlu meskipun ga sll mjamin. Kl mnrt sy USU di Sumut, Unand di Sumbar, Unhas di Makasar, dan msh bnyk lg mngkn.
      U/ menilai kualitas kn bnyk kriterianya, jd tiap saat bs berubah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: