Dari Tempe, Anemia Hingga Osteoporosis


Tempe mentah“TEMPE”…lauk yang sangat terjangkau harganya, enak rasanya (bagi yang suka lho ya…like me), tinggi proteinnya, namun seringkali diabaikan keberadaannya (terutama kalau pas yang ada di hadapan adalah ayam goreng, daging, ehmm…lezat memang). Tempe sering menjadi pilihan terakhir jika ada yang tampak lebih nikmat dipandang dan nikmat di lidah. Kasian nasib tempe…habis manis sepah dibuang, lho koq…Seringkali orang melihat sebelah mata (sebelahnya lg liat apa dong…hehe) pada orang yang hampir tiap hari makannya tempe mulu (terutama buat anak kos yang uang kirimannya mepet banget), padahal…banyak banget lho kandungan gizinya, ga sebanding dengan harga dan penampilannya. “Don’t judge the book by the cover” sepertinya cocok menggambarkan kisah si tempe ini.

Tempe, anemia dan osteoporosis…tampak sangat tidak berhubungan. Eits…tunggu dulu! Mari kita cari hubungannya. Sebelumnya, sudah pernah dengar kan tentang anemia (ane Desie bukan Mia…just kidding, serius tapi santai ya…)? Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal. Sehingga gejala dan tanda yang tampak pada penderita anemia ini antara lain tampak pucat, mudah lelah, lemes, ngantuk, dan kadang kepala terasa melayang. Gejalanya bervariasi antar individu. Banyak faktor yang bisa menyebabkan anemia, tergantung dari jenis anemianya, antara lain anemia defisiensi besi, defisiensi asam folat dan vitamin B12, anemia karena perdarahan, thalasemia dan masih banyak lagi.

Saat ini mari kita fokuskan pada anemia defisiensi besi yang secara epidemiologi merupakan anemia terbanyak di Indonesia, terutama pada wanita dan ibu hamil. Dari namanya saja sudah bisa diketahui bahwa penyebabnya adalah kurangnya zat besi (Fe) yang penting dalam proses pembentukan heme, komponen dari hemoglobin (Hb). Sumber utama zat besi berasal dari makanan yang kita makan, terutama daging merah, hati, sayuran hijau seperti bayam, dan…kedelai (bahan baku tempe lho…). Sejak lama telah diketahui bahwa kandungan besi terbanyak ada pada daging merah dan hati (protein hewani), namun ternyata berdasarkan penelitian dan literatur terbaru menyatakan bahwa, kedelai mengandung zat besi berpuluh kali lipat dibandingkan dengan daging dan hati. Sehingga banyak yang mulai beralih ke kedelai dalam rangka meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh, mengingat harganya yang jauh lebih murah. Selain itu hati dikenal sebagai organ detoksifikasi (pengolah racun tubuh), sehingga konsumsinya juga harus dibatasi. Ada banyak produk yang dibuat dari kedelai, akan tetapi yang paling mudah dijumpai sebagai pendamping lauk makan kita adalah tempe, dan temannya….tahu. Bahkan, di negara paman Sam (baca: USA) sedang menggalakkan pembuatan tempe (perlu ada hak paten niy sepertinya, hehe…). Kandungan protein pada tempe juga tidak kalah lho dengan protein hewani, jadi jangan meremehkan kemampuan “tempe” untuk kesehatan tubuh kita. Dibandingkan dengan suplemen besi, tentu saja segala sesuatu yang alamiah akan lebih baik dibanding zat kimia buatan pabrik. Akan tetapi suplemen besi dibutuhkan terutama pada wanita hamil, wanita sedang haid, mengingat kandungan zat besinya  tinggi dan besinya bisa langsung digunakan tubuh, jadi efeknya memang bisa lebih cepat.

tempe goreng bumbu pedasDari penjelasan di atas, sudah tahu kan hubungan antara tempe dengan anemia. Kalau hubungan tempe dengan osteoporosis? Seperti anemia tadi, mari kita bahas dulu mengenai osteoporosis atau pengeroposan tulang. Osteoporosis adalah penyakit pada tulang yang dapat menyebabkan tulang mudah patah (rapuh). Faktor risiko seseorang terkena osteoporosis antara lain gender (wanita lebih mudah dan lebih banyak), umur (makin tua makin besar kemungkinannya, terutama di atas 5o tahun), ukuran tubuh (wanita yang kurus akan lebih besar kemungkinan terkena osteoporosis) dan adanya riwayat keluarga yang mengalami osteoporosis. Itu tadi faktor risiko yang tidak dapat diperbaiki atau diubah. Faktor risiko osteoporosis yang dapat diubah antara lain rendahnya kadar estrogen, asupan kalsium dan vitamin D, merokok dan kurang olahraga. Intinya, pencegahannya dengan mengubah gaya hidup mulai dari makanan, kebiasaan dan olahraga. Mengapa lebih banyak wanita yang umurnya di atas 50 tahun ? Karena pada wanita di atas 50 tahun, sudah mulai terjadi menopause, sehingga produksi estrogen berkurang bahkan berhenti. Padahal hormon estrogen berguna untuk pembentukan tulang (osteoblas) dan mengurangi pembentukan perusak tulang (osteoklas). Nah jika sudah terdapat faktor risiko ini ditambah dengan pola makan dan kebiasaan yang kurang baik, maka risiko terkena osteoporosis akan semakin besar. Dengan berolahraga, maka tulang-tulang kita, terutama tulang2 penyangga berat badan kita akan semakin kuat, sehingga tidak mudah rapuh.

Kembali ke hormon estrogen tadi, maka banyak wanita yang mulai menggalakkan minum suplemen hormon, padahal efeknya kadang tidak seperti yang diharapkan. Jadi, kenapa tidak mencoba yang alami saja mulai saat ini sebelum masa menopause terjadi. Lalu apa yang alami itu? Jawabnya dari kedelai, karena di dalam kedelai terdapat zat yang disebut fito estrogen. Makanan yang bahannya dari kedelai dan paling banyak dijumpai, yang enak rasanya, kan “tempe” namanya (ni kata orang yang suka tempe lho…), jadi beralihlah ke tempe, produk Indonesia buatan industri rumah tangga. Bangga kan jadi penyuka tempe, bentuk tidak seberapa, tapi manfaatnya luarrr biasa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: