Terapi Alternatif


Kita sering mendengar tentang terapi alternatif, eits…tunggu dulu, saya tidak akan menyampaikan tentang alternatif  pengobatan ke dukun, paranormal ataupun “orang pintar” (Naudzubillah dech…tar bukan pahala yang didapat, malah dosa). Terapi alternatif yang dimaksud adalah bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat, atau bahan yang tidak termasuk  dalam standar pengobatan kedokteran modern dan dipergunakan sebagai alternatif atau pelengkap pengobatan  kedokteran modern tersebut, antara lain akupunktur, homeopati, megavitamin dan herbal medicine atau dikenal dengan pengobatan herbal. Pengobatan ini semakin berkembang akhir-akhir ini.

Dikatakan makin berkembang terbukti dari makin banyaknya dokter yang ikut kursus akupunktur (lihat saja makin banyak praktek dokter dengan tambahan “embel-embel” Akupunktur di belakang papan prakteknya), lalu makin banyak acara televisi yang menayangkan program pengobatan herbal (dulu awalnya dipelopori oleh Prof. Hembing ). Mengapa semua itu semakin berkembang?Dari sudut pandang orang awam, kesehatan semakin mahal harganya, biaya rumah sakit atau ke dokter, harga obat-obatan, bukannya semakin murah, tetapi semakin mahal. Seringkali, masyarakat sudah lelah dengan penyakit yang dialaminya yang tak kunjung sembuh (bahkan sampai ada yang bunuh diri frustasi dengan penyakit kroniknya, Naudzubillah). 

Di lain pihak, dengan pengobatan alternatif dirasakan masyarakat lebih terjangkau dari segi biaya, dan lebih cepat proses kesembuhannya (sugestinya besar niy…jangan salah lho…motivasi dan optimisme diri “saya akan/ bisa sembuh”, bisa menjadi terapi tersendiri buat tubuh kita).  Padahal bisa saja dari segi kedokteran, butuh proses untuk kesembuhan penyakitnya atau malahan penyakitnya dinyatakan sudah stadium akhir sehingga sudah tidak dapat diobati lagi. Sehingga pengobatan ditujukan hanya untuk meningkatkan kualitas hidup saja (biasanya untuk penyakit kanker, tapi bukan kantong kering).

Salah satu contohnya, adalah penyakit TBC atau tuberkulosis. Masyarakat kadang lebih mengenalnya dengan sebutan “flek” paru…padahal istilah ini seharusnya tidak digunakan agar masyarakat lebih mengenal tentang istilah TBC dibanding flek paru, akan tetapi istilah ini justru sering disampaikan dokter atau paramedis kepada pasiennya (buat dokter dan paramedis…sampaikan saja kalau memang pasien Anda menderita TBC, tentunya dengan empati…kan sudah belajar Emphaty and Patient Care serta Breaking Bad News…ayo dipraktekkan dong demi kebaikan bersama). Jadi, kalau ada iklan layanan masyarakat tentang TBC, mereka dah langsung “ngeh” dengan penyakit ini, lebih faham dan bisa lebih aware atau waspada.

Nah…jika seseorang sudah dinyatakan menderita TBC, maka pengobatan minimal dilakukan selama 6 bulan untuk mengusir bakterinya dari tubuh kita. Ehmm…how imagine that…sudah lama pengobatannya, obatnya banyak, diminum tiap hari dan seringkali baru berasa ada perbaikan setelah berbulan-bulan minum obat, belum lagi biaya yang harus dikeluarkan (meskipun obat untuk TBC gratis lho…). Akhirnya…frustasi dech…Duh…jgn sampai ya…Itu baru salah satu contohnya, masih banyak yang lain. Oleh karena itu, jika ingin beralih ke terapi alternatif, sebaiknya pengobatan yang telah dijalani dilanjutkan, jangan sampai berhenti !

Kembali ke pengobatan alternatif. Sebenarnya tidak hanya digunakan sebagai pengobatan tetapi juga sebagai pencegahan terhadap penyakit (mencegah lebih baik daripada mengobati kan…). Khusus untuk pengobatan herbal, bahannya lebih mudah didapatkan, bahkan ada di sekitar kita, bisa ditanam sendiri di halaman rumah, so…harganya tentu lebih terjangkau dengan “kocek” kita. Dan karena berasal dari alam, efek samping yang ditimbulkan juga minimal atau bahkan tidak ada atau belum ada yang melaporkan. Yang jelas, jika dibandingkan dengan obat-obat yang dibuat oleh pabrik, tentu efek sampingnya minimal buat tubuh kita. Tapi…tetep aja yang namanya alternatif, bukan berarti terus kita meninggalkan obat yang diberi oleh dokter, apalagi jika penyakitnya parah. Jika memang bisa digunakan secara bersamaan, kenapa tidak digunakan bersama saja, sehingga efek terapinya saling menguatkan. Jadi, tetap berusaha dan terakhir berdoa semoga Allah selalu memberi kesehatan, dan kesembuhan dari penyakit yang sedang diderita. Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: